Indonesia memiliki potensi untuk menciptakan 760 ribu lapangan kerja hijau atau green jobs melalui pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) dalam sepuluh tahun ke depan, sebagaimana diuraikan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) untuk periode 2025-2034.
"Saya berharap di sektor akademisi, dapat mempersiapkan sumber daya manusia yang mampu bekerja di sektor nuklir, hidro, pengelolaan sampah, energi surya, panas bumi, penyimpanan terpompa, energi angin, biomassa, biogas, dan kelautan," ungkap Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, dalam sebuah diskusi di Jakarta pada hari Rabu.
Secara rinci, tenaga surya diperkirakan akan memberikan kontribusi terbesar, dengan 348.057 pekerjaan. Peluang lainnya mencakup 94.195 pekerjaan dari penyimpanan terpompa, 68.193 dari sistem penyimpanan energi baterai (BESS), 58.938 dari energi angin, dan 42.700 dari panas bumi.
Selama sepuluh tahun ke depan, diperkirakan akan ada kebutuhan sebanyak 485.000 green jobs selama tahap prakonstruksi dan konstruksi, 31.000 pekerjaan untuk operasi dan pemeliharaan, serta 243.000 pekerjaan di sektor manufaktur EBT.
Pemerintah menargetkan penambahan kapasitas pembangkit listrik sebesar 69,5 GW hingga tahun 2034 melalui RUPTL 2025-2034. Sekitar 76 persen dari kapasitas ini akan berasal dari energi baru terbarukan (EBT) serta sistem penyimpanan energi seperti baterai dan penyimpanan terpompa.
Dalam lima tahun pertama, direncanakan pembangunan pembangkit dengan kapasitas total sebesar 27,9 GW. Rinciannya mencakup 9,2 GW dari pembangkit berbahan bakar gas, 12,2 GW dari Energi Baru Terbarukan (EBT), 3 GW untuk sistem penyimpanan energi, dan 3,5 GW dari pembangkit batu bara yang saat ini berada dalam tahap akhir konstruksi.
Memasuki lima tahun kedua, fokus akan beralih secara signifikan ke EBT dan penyimpanan energi, dengan target mencapai 37,7 GW atau 90 persen dari total kapasitas yang direncanakan. Sisa kapasitas sebesar 3,9 GW akan tetap berasal dari pembangkit berbasis fosil seperti batu bara dan gas.
Jenis pembangkit EBT yang akan dikembangkan mencakup tenaga surya (17,1 GW), angin (7,2 GW), panas bumi (5,2 GW), hidro (11,7 GW), dan bioenergi (0,9 GW).
Energi nuklir juga akan mulai diperkenalkan dengan pembangunan dua reaktor kecil berkapasitas 250 MW masing-masing di Sumatera dan Kalimantan.
Secara keseluruhan, Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN ini membuka peluang investasi senilai Rp2.967,4 triliun.
Dana ini akan digunakan untuk pembangunan pembangkit, jaringan transmisi, distribusi, serta program kelistrikan di desa.
Baca Juga: OJK Dorong Peran Mahasiswa UMSU Sebagai Agen Inklusi Keuangan Di Masyarakat
Tag:
Penulis: Nora Jane