Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) mendorong penguatan strategi pembiayaan inovatif untuk memenuhi kebutuhan investasi infrastruktur sebesar Rp10.303 triliun, sesuai dengan target pertumbuhan ekonomi 8 persen dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029. "Kebutuhan investasi yang sangat besar ini menekankan pentingnya penguatan strategi pembiayaan inovatif yang tidak hanya bergantung pada pembiayaan publik, tetapi juga memaksimalkan peran sektor swasta dan mitra pembangunan," ungkap Deputi Bidang Pembiayaan dan Investasi Pembangunan Kementerian PPN/Bappenas, Putut Hari Satyaka, dalam keterangannya yang diterima di Jakarta pada hari Selasa. Putut Hari Satyaka, saat berbicara dalam forum bisnis bertema "Pembiayaan Inovatif: Membuka Peluang untuk Pembangunan Berkelanjutan" di Paviliun Indonesia World Expo 2025 Osaka, Kansai, Jepang, menyatakan bahwa Kementerian PPN/Bappenas menerapkan pendekatan inovatif dan partisipatif sebagai pilar utama dalam strategi pembiayaan pembangunan 2025–2029. Dalam kesempatan tersebut, Putut menjelaskan bahwa Indonesia tidak hanya membahas regulasi, tetapi juga menciptakan ruang dialog dan keberanian untuk bereksperimen, termasuk di tingkat pemerintah daerah. Ia menambahkan bahwa banyak kepala daerah yang mulai mengembangkan pendekatan kreatif, mulai dari land value capture hingga obligasi hijau lokal. "Yang terpenting adalah sinergi, kita membangun ekosistem, bukan hanya proyek," ujarnya. Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Pengelolaan Dukungan Pemerintah dan Pembiayaan Infrastruktur Kementerian Keuangan, Riko Amir, juga menekankan pentingnya menciptakan ekosistem fiskal yang ramah bagi investor dan mendorong transisi hijau dengan mengintegrasikan prinsip Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola dalam proyek publik.
Baca Juga: OJK Dorong Peran Mahasiswa UMSU Sebagai Agen Inklusi Keuangan Di Masyarakat
Tag:
Penulis: Nora Jane