IKI Semakin Berkembang Dalam 100 Hari Kerja Pemerintahan Presiden Prabowo Dan Wakil Presiden Gibran

Jumat, 31 Januari 2025

    Bagikan:
(Dok/Kemenperin)

Setelah melewati tahun 2024 yang penuh tantangan, industri manufaktur menunjukkan optimisme bahwa tahun 2025 akan membawa perbaikan. Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia untuk bulan Desember 2024 mencatat bahwa sektor ini telah berhasil pulih ke level ekspansif (51,2), setelah mengalami kontraksi selama lima bulan berturut-turut. Pemulihan PMI manufaktur didorong oleh peningkatan pesanan baru, baik dari pasar domestik maupun ekspor, serta peningkatan aktivitas pembelian bahan baku oleh perusahaan, yang memberikan prospek positif bagi sektor manufaktur.

Hal serupa juga terlihat pada Prompt Manufacturing Index (PMI) Bank Indonesia untuk triwulan IV - 2024, yang menunjukkan ekspansi sebesar 51,58%, sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal III-2024 (51,54%). Mayoritas komponen yang menyusun indeks ini, seperti Volume Persediaan Barang Jadi, Volume Total Pesanan, Volume Produksi, dan Penerimaan Barang Pesanan Input, juga mengalami ekspansi. Pada bulan Januari 2025, Indeks Kepercayaan Industri juga menunjukkan penguatan yang signifikan.

“Indeks Kepercayaan Industri (IKI) bulan Januari 2025 berada pada posisi ekspansif dengan mencapai 53,10. IKI Januari 2025 meningkat 0,17 poin dibandingkan bulan Desember 2024, dan meningkat 0,75 poin dibandingkan Januari tahun lalu,” ungkap Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arif, di Jakarta, Kamis (30/1). Dalam 100 hari Kabinet Merah Putih, IKI semakin menunjukkan penguatan. Sebelumnya, IKI pada bulan November 2024 juga berada pada level ekspansi sebesar 52,95.

Peningkatan IKI bulan Januari ini didorong oleh ekspansi 20 subsektor yang memberikan kontribusi terhadap PDB industri pengolahan non-migas pada Triwulan III tahun 2024 sebesar 95,5%. Selain itu, peningkatan IKI bulan Januari ini juga dipengaruhi oleh ekspansi seluruh variabel yang membentuk IKI, yaitu pesanan baru, produksi, dan persediaan. Variabel pesanan baru mengalami peningkatan sebesar 2,03 poin dibandingkan bulan sebelumnya, mencapai 52,74. Hal ini sejalan dengan kondisi pada bulan Desember ketika perusahaan mengalami peningkatan.

Pada bulan Januari ini, industri mengalami penurunan produksi jika dibandingkan dengan bulan Desember 2024. Penurunan ini disebabkan oleh masih tingginya stok barang akibat peningkatan produksi pada bulan sebelumnya, sebagai langkah antisipasi terhadap rencana kenaikan PPN sebesar 12 persen yang diumumkan tahun lalu. Selain itu, persediaan tetap mengalami ekspansi dengan angka 53,58, meskipun mengalami penurunan sebesar 1,00 poin dibandingkan Desember 2024. Hal ini menunjukkan bahwa produsen masih bersikap hati-hati dalam melakukan produksi, mengingat persediaan yang belum sepenuhnya terserap di pasar.

Dari segi daya beli masyarakat, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada bulan Desember menunjukkan peningkatan sebesar 1,8 poin dibandingkan bulan November. Peningkatan keyakinan konsumen pada bulan Desember terlihat dari kenaikan indeks penghasilan saat ini, indeks ketersediaan lapangan kerja, dan indeks pembelian barang tahan lama, meskipun tidak merata di semua golongan.

Indeks tertinggi untuk komponen penghasilan saat ini tercatat pada responden dengan pengeluaran di atas Rp5 juta dan kelompok usia 20-30 tahun. Sementara itu, komponen ketersediaan lapangan kerja menunjukkan peningkatan di semua tingkat pendidikan, kecuali untuk pascasarjana. Komponen pengeluaran tertinggi terindikasi pada kelompok pengeluaran antara Rp4,1 juta hingga Rp5 juta dan kelompok usia 31-40 tahun.

Dengan demikian, daya beli masyarakat dapat dikatakan stabil pada level golongan menengah atas, meskipun tetap berhati-hati dalam melakukan pengeluaran. Di sisi lain, daya beli masyarakat di golongan bawah mengalami penurunan, yang tentunya berdampak pada penyerapan produk manufaktur di pasar.

Hal ini tercermin pada tiga subsektor dengan nilai IKI tertinggi (ekspansi), yaitu subsektor Industri Alat Angkutan Lainnya, Industri Peralatan Listrik, dan Industri Mesin dan Perlengkapan YTDL, yang mayoritas konsumennya adalah perusahaan, bukan rumah tangga individu. Sementara itu, tiga subsektor yang mengalami kontraksi adalah Industri Pengolahan Lainnya, Industri Komputer, Barang Elektronik dan Optik, serta Industri Minuman.

Berdasarkan analisis Tenaga Ahli IKI, kontraksi pada ketiga subsektor tersebut disebabkan oleh penurunan daya beli konsumen, terutama di kalangan masyarakat berpenghasilan rendah, pelonggaran kebijakan impor yang mengakibatkan masuknya produk impor secara berlebihan, fluktuasi dalam ekonomi global, perubahan kebijakan pemerintah, serta gangguan dalam rantai pasok.

Di samping itu, kontraksi pada sektor Industri Komputer, Barang Elektronik, dan Optik juga dipicu oleh penurunan permintaan dari luar negeri akibat persaingan yang semakin ketat di pasar domestik, masalah dalam rantai pasok, serta isu relokasi pabrik elektronik dari RRT ke Indonesia, sementara kondisi di dalam negeri masih belum stabil. Untuk sektor industri minuman, faktor musiman turut berkontribusi terhadap kontraksi yang terjadi. Oleh karena itu, Tenaga Ahli IKI mengingatkan bahwa perekonomian global pada tahun 2025 diperkirakan akan menghadapi berbagai tantangan yang signifikan.

Meskipun demikian, kondisi umum kegiatan usaha pada bulan Januari 2025 menunjukkan perbaikan dibandingkan bulan Desember 2024, yang terlihat dari persentase responden yang melaporkan peningkatan dan stabilitas dalam usaha mereka (dari 76,4% menjadi 76,8%). Sementara itu, tingkat optimisme pelaku usaha untuk enam bulan ke depan mengalami penurunan dari 73,4% menjadi 72,5%.

Juru bicara Kementerian Perindustrian menyampaikan apresiasi kepada Presiden dan Wakil Presiden atas arahan dan kebijakan pro-industri yang telah dikeluarkan. Dalam upaya meningkatkan kinerja industri manufaktur nasional, Kementerian Perindustrian terus mendorong penerbitan berbagai kebijakan strategis dan pro-industri dalam 100 hari pertama pemerintahan Kabinet Merah Putih, termasuk kebijakan pengamanan bahan baku, ekspor, daya saing industri, dan permintaan produk manufaktur di pasar domestik. Beberapa kebijakan tersebut mencakup perpanjangan Program Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), penguatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), pelonggaran kebijakan impor, dan paket stimulus ekonomi untuk sektor manufaktur.

Kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) untuk sektor industri akan diperpanjang penerapannya pada tahun 2025, khususnya untuk tujuh sektor industri.

Mengenai TKDN, kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan investasi dalam sektor produksi, menciptakan lapangan kerja, serta mendorong penggunaan bahan baku atau komponen yang berasal dari dalam negeri. Sebagai ilustrasi, Kementerian Perindustrian mendorong Apple Inc. untuk memenuhi ketentuan TKDN dalam industri HKT (Handphone, Komputer Genggam, dan Tablet), agar perusahaan tersebut dapat memasarkan produk-produk terbarunya di Indonesia.

Di samping itu, sehubungan dengan relaksasi kebijakan impor, Kementerian Perindustrian telah mengusulkan perubahan pada pelabuhan masuk (entry point) khususnya untuk tujuh komoditas produk jadi, yaitu elektronik, tekstil dan produk tekstil (TPT), pakaian jadi, alas kaki, kosmetik, keramik, katup, dan obat tradisional.

"Kementerian Perindustrian juga telah merumuskan beberapa program prioritas untuk mendukung pencapaian target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen," tutup Febri.


Baca Juga: Analisis Pemicu Bencana Di Sumut: Cuaca Ekstrem Dan Kerusakan Lingkungan


Tag:


    Bagikan:

Penulis: Seraphine Claire


Berikan komentar
Komentar menjadi tanggung-jawab Anda sesuai UU ITE.