Sumatera Utara – Di balik tingginya korban jiwa dan kerusakan akibat bencana di Sumatera Utara, tersimpan faktor-faktor pemicu yang kompleks. Para ahli menyoroti peran cuaca ekstrem La Nina yang berinteraksi dengan kondisi lingkungan yang sudah rapuh di beberapa daerah. Alih fungsi lahan di kawasan hulu sungai dan lereng bukit diduga memperburuk dampak yang terjadi.
Akibatnya, air langsung mengalir ke sungai dalam volume besar dengan cepat, memicu banjir bandang dan erosi yang berujung pada longsor. Bencana ini menyoroti kembali pentingnya ketaatan terhadap rencana tata ruang dan wilayah (RTRW). Banyaknya permukiman dan aktivitas ekonomi yang berada di kawasan rawan bencana seharusnya menjadi peringatan keras.
Penegakan hukum terhadap pelanggaran tata ruang dinilai masih lemah, sehingga eksploitasi alam di area sensitif terus berlangsung. Upaya mitigasi struktural seperti pembuatan tanggul, normalisasi sungai, dan penghijauan kembali perlu digalakkan. Namun, yang tak kalah penting adalah mitigasi non-struktural melalui edukasi dan peningkatan kapasitas masyarakat.
Masyarakat yang tinggal di daerah rawan harus memahami risiko dan tahu apa yang harus dilakukan ketika peringatan dini dikeluarkan. Sistem peringatan dini bencana hidrometeorologi juga perlu ditingkatkan akurasinya dan jangkauan sosialisasinya. Dengan teknologi yang ada, diharapkan peringatan bisa sampai ke masyarakat lebih cepat dan jelas.
Bencana di Sumatera Utara harus menjadi momentum untuk melakukan koreksi besar-besaran terhadap pola pembangunan dan pengelolaan lingkungan. Keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan kelestarian lingkungan harus benar-benar dijaga. Jika tidak, bencana serupa berpotensi terulang di masa depan dengan dampak yang mungkin lebih parah.
Baca Juga: AHY Fokus Pada Infrastruktur Publik Rusak Di Sumatera Pasca Bencana
Tag:
Penulis: Seraphine Claire