Para Ekonom Berpendapat Bahwa BUMN Indonesia Dapat Menjadi Pendorong Kemajuan Dengan Mengadopsi Prinsip-prinsip Transisi Hijau

, 10 November 2024

    Bagikan:
(Foto: ANTARA/Harianto)

Sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) telah berhasil berkontribusi terhadap kemajuan Indonesia melalui inisiatif transisi hijau.

"Memasuki abad ke-21, Indonesia belum tergolong sebagai 'Negara Industri Baru'. Namun, pada tahun 2024, menurut Bank Dunia, Indonesia 'dengan cepat muncul sebagai negara maju, dengan PDB melebihi 1 triliun dolar AS (sekitar Rp15,6 kuadriliun)'," ungkap Ekonom Bank Dunia Profesor John Ure dalam jurnal Open Access Government pada 8 November 2024.

Kemajuan ini ditunjukkan melalui grafik yang menggambarkan pertumbuhan PDB yang signifikan sejak tahun 2020, seiring dengan pemulihan ekonomi pasca-pandemi COVID-19.

Pertumbuhan yang signifikan ini, jelasnya, sering kali menghadirkan berbagai tantangan bagi negara-negara berkembang.

Hal ini terutama terjadi ketika ekonomi sangat bergantung pada industri ekstraktif untuk ekspor dan penyediaan listrik domestik, karena fluktuasi harga gas dan minyak global dapat memengaruhi anggaran nasional.

Dia menyebut dua perusahaan BUMN di sektor pertambangan, petrokimia, dan energi, yaitu Pertamina dan Mind ID, sebagai dua entitas yang meraih keuntungan besar akibat lonjakan permintaan setelah COVID.

Hingga tahun 2023, laba masing-masing BUMN tersebut mencapai Rp14 triliun dan Rp7 triliun, menjadikannya sebagai penyumbang dividen BUMN terbesar kedua dan kelima bagi perekonomian Indonesia, jelasnya.

John mengutip pernyataan Direktur Utama Pertamina saat itu, Nicke Widyawati, yang menyatakan bahwa peningkatan fokus pada efisiensi operasional menjadi faktor kunci dalam mencapai rekor laba sebesar 1,25 miliar dolar AS (sekitar Rp19,5 triliun) bagi perusahaan.

Dia juga merujuk pada beberapa sumber yang menyatakan bahwa optimalisasi biaya secara keseluruhan sejak tahun 2021 telah memberikan kontribusi terhadap penghematan mencapai 3,273 miliar dolar AS (sekitar Rp51,2 triliun).

Ia menekankan bahwa Indonesia perlu beralih ke ekonomi hijau dengan memanfaatkan keuntungan dari kedua BUMN untuk berinvestasi dalam energi terbarukan, meningkatkan lapangan kerja lokal, serta menarik investasi modal.

Dengan kekayaan sumber daya bahan bakar fosil dan mineral seperti nikel, emas, dan aluminium, Indonesia menghadapi tantangan dalam menghentikan penggunaan bahan bakar fosil. Hal ini memerlukan pendekatan yang seimbang antara penambangan bahan bakar fosil dan pemanfaatan manfaat ekonominya, seperti penyediaan baterai untuk kendaraan listrik sambil tetap menjaga keberlanjutan sumber daya alam.

Ia berpendapat bahwa Indonesia memiliki potensi untuk menjadi pemimpin dalam sektor ini di antara negara-negara berkembang.


Baca Juga: OJK Dorong Peran Mahasiswa UMSU Sebagai Agen Inklusi Keuangan Di Masyarakat


Tag:


    Bagikan:

Penulis: Nora Jane


Berikan komentar
Komentar menjadi tanggung-jawab Anda sesuai UU ITE.