Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KemenKopUKM) telah meluncurkan ekspor kerajinan anyaman lontar yang merupakan produk khas dari Nusa Tenggara Timur (NTT), yang dihasilkan oleh salah satu wirausaha sosial, Du Anyam.
Pelaksana Tugas Deputi Bidang Usaha Kecil Menengah KemenKopUKM, Temmy Satya Permana, menyatakan bahwa di tengah kondisi pasar domestik yang melemah, penting untuk terus berupaya meningkatkan ekspor produk-produk unggulan dari UKM.
"Kita berusaha untuk membuka pasar internasional dengan mempromosikan produk-produk yang mungkin selama ini tidak terpikirkan, seperti kerajinan dari Flores yang dapat diekspor," ungkap Temmy dalam acara pelepasan ekspor kerajinan anyaman lontar dari Kabupaten Flores Timur ke pasar global di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada hari Jumat.
Menurutnya, kerajinan anyaman lontar yang dihasilkan oleh Du Anyam memiliki keunggulan yang unik.
Produk Du Anyam tidak hanya berkontribusi pada pengembangan pasar lokal dan global, tetapi juga merupakan salah satu inisiatif kewirausahaan sosial yang berhasil memberdayakan perempuan di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (MenkopUKM), Teten Masduki, memberikan apresiasi atas perjalanan sepuluh tahun Du Anyam yang telah sukses memperkenalkan karya-karya wirausaha perempuan, khususnya para ibu di Larantuka, Flores Timur, NTT, ke panggung internasional.
Ia menyatakan bahwa pencapaian ini sejalan dengan visi KemenKopUKM dalam mendukung dan mengembangkan wirausaha muda, termasuk di kalangan perempuan.
"Peran Du Anyam sangat layak untuk diapresiasi. Du Anyam telah berhasil menjadi penghubung yang mendukung produksi anyaman oleh perempuan perajin NTT di desa-desa, sehingga dapat menjangkau pasar yang lebih luas dan memberikan dampak ekonomi bagi perempuan di daerah terpencil, serta turut melestarikan warisan budaya," ujarnya dalam pernyataan virtual.
Lebih lanjut, Teten menekankan bahwa kemitraan strategis antara Du Anyam dan KemenKopUKM merupakan contoh konkret bagaimana pemerintah dapat berkolaborasi dengan wirausaha sosial, yang akan menjadi kunci dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis masyarakat.
Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KemenKopUKM) telah melaksanakan program peningkatan kapasitas wirausaha dengan memberikan dukungan melalui lembaga inkubator, baik yang berasal dari perguruan tinggi negeri maupun swasta, serta pemerintah daerah di tingkat provinsi, kota, dan kabupaten.
"Saya mendorong pemerintah daerah untuk mengeksplorasi dan mengembangkan potensi atau keunggulan yang dimiliki oleh daerah masing-masing. Sebagai contoh, Du Anyam telah berhasil berinovasi dalam menciptakan ekonomi baru yang bernilai tinggi, sehingga produknya diterima di pasar global melalui anyaman yang terbuat dari daun lontar," ungkap Teten.
Di kesempatan yang sama, Pendiri Du Anyam, Hanna Keraf, menambahkan bahwa Du Anyam meyakini bahwa potensi anyaman lontar dari Nusa Tenggara Timur (NTT) dapat menjadi kekuatan yang signifikan, tidak hanya untuk memperkuat ekonomi lokal, tetapi juga memberikan dampak sosial yang besar.
Bagi masyarakat NTT, khususnya di Pulau Rote dan Sabu, pohon lontar memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Manfaat yang diberikan oleh pohon lontar dalam berbagai aspek kehidupan membuat masyarakat setempat menjulukinya sebagai pohon kehidupan.
Dengan memanfaatkan keterampilan tradisional dalam menganyam daun lontar, kami tidak hanya menghasilkan produk yang bernilai tinggi, tetapi juga memberikan kesempatan dan kemampuan bagi perempuan untuk mengambil keputusan secara mandiri, menjadi pemimpin, serta merencanakan masa depan mereka dan anak-anak mereka," ungkapnya.
Hingga September 2023, Du Anyam telah mengirimkan 13 kontainer produk untuk memenuhi permintaan baik di pasar domestik maupun internasional.
Produk anyaman lontar dari NTT kini telah tersedia di 52 negara, dengan target penjualan lebih dari 450.000 produk hingga tahun 2028.
Merefleksikan satu dekade perjalanan ini, Du Anyam tetap berpegang pada nilai-nilai inti seperti pemberdayaan perempuan, keberlanjutan, dan pelestarian budaya.
Perjalanan selama 10 tahun ini juga menunjukkan bahwa Du Anyam sebagai kewirausahaan sosial mampu bertahan hingga saat ini dan tetap setia pada komitmen awalnya.
“Kami berkomitmen untuk terus berinvestasi dalam pengembangan keterampilan para penganyam, memperluas pasar, dan berinovasi dalam produk-produk kami. Di masa depan, kami akan terus berupaya untuk berkontribusi pada ekonomi hijau yang berkelanjutan,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Pemasaran Strategis & Komunikasi Grup Bank DBS Indonesia, Mona Monika, menyatakan bahwa sejak menerima dukungan hibah dari DBS Foundation pada tahun 2017, Du Anyam telah berhasil memanfaatkan potensi besar mereka untuk memberikan dampak sosial yang positif melalui pemberdayaan perempuan, khususnya di wilayah NTT.
"Dengan dukungan dari DBS Foundation, Du Anyam mampu mewujudkan potensi mereka untuk memberikan dampak sosial yang positif, memberdayakan perempuan, meningkatkan taraf hidup ekonomi, dan mendorong keberlanjutan melalui praktik usaha yang bertanggung jawab," kata Mona Monika.
Pj. Bupati Flores Timur, Sulastri Rasyid, menyatakan bahwa Du Anyam telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam pengembangan kewirausahaan perempuan di Flores Timur. Ia juga percaya bahwa Du Anyam akan berfungsi sebagai platform yang dapat meningkatkan perekonomian bagi para ibu di wilayah tersebut. “Sebagai dukungan terhadap Du Anyam, kami melalui Dinas Perkebunan akan merumuskan kebijakan untuk menanam kembali pohon lontar, agar pohon ini tidak punah dan dapat terus tumbuh di Flores Timur,” ungkap Sulastri.
Baca Juga: OJK Dorong Peran Mahasiswa UMSU Sebagai Agen Inklusi Keuangan Di Masyarakat
Tag:
Penulis: Nora Jane