Sebuah anomali yang membingungkan kini tengah terjadi di pusat industri otomotif Indonesia. Di saat pasar mobil secara keseluruhan sedang "sekarat"—terseok-seok akibat kenaikan pajak, suku bunga yang tinggi, dan daya beli yang lesu—segmen kendaraan listrik (EV) justru sedang merayakan pertumbuhan yang luar biasa. Laporan terbaru dari PwC, Electric Vehicle Sales Review Q1 – 2025, menggambarkan sebuah "kisah dua pasar" yang sangat berbeda. Di satu sisi, terdapat kesedihan dari penjualan mobil konvensional yang terus menurun. Di sisi lain, terdapat euforia dari penjualan mobil listrik yang melonjak hingga 152,5% pada kuartal pertama 2025, dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Ini bukan lagi sekadar tren. Ini adalah sebuah pergeseran besar yang dipicu oleh kebijakan pemerintah yang ambisius, namun meninggalkan sebuah pertanyaan besar: apakah perayaan mobil listrik ini adalah sebuah fajar baru yang berkelanjutan, atau sekadar sebuah gelembung yang diciptakan oleh insentif?
'Karpet Merah' yang disediakan oleh Pemerintah
Ledakan penjualan kendaraan listrik (EV) di Indonesia tidak terjadi secara kebetulan. Ini merupakan hasil dari kebijakan "karpet merah" yang diterapkan oleh pemerintah. Mulai dari penghapusan pajak barang mewah (PPnBM) sebesar 100% hingga penghapusan PPN, serangkaian insentif ini secara efektif menjadikan harga mobil listrik jauh lebih menarik. Ambisi pemerintah pun sangat serius. Dengan memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, Indonesia menargetkan untuk menjadi produsen baterai listrik terbesar ketiga di dunia pada tahun 2027 dan memproduksi 600.000 unit EV secara domestik pada tahun 2030.
Di Balik Pesta, Ada 'Luka' di Pasar Konvensional
Namun, di balik euforia elektrifikasi ini, terdapat "luka" yang menganga di pasar otomotif secara umum. Kenaikan PPN dari 11% menjadi 12% pada Januari 2025 telah menyebabkan harga kendaraan konvensional semakin tinggi, memaksa konsumen untuk menahan diri. Pasar kendaraan ringan secara keseluruhan telah mengalami tekanan selama dua tahun terakhir. Ketidakpastian ekonomi dan biaya pembiayaan yang tinggi membuat banyak keluarga lebih memilih untuk menunda pembelian mobil baru.
Sebuah Peluang di Tengah Badai
Meskipun kondisi pasar secara makro tidak dalam keadaan baik, para ahli melihat segmen EV sebagai sebuah harapan di tengah kegelapan. Lukmanul Arsyad, Pemimpin Industri dan Layanan PwC Indonesia & Partner, menyatakan, "segmen EV tetap memiliki peluang positif, didorong oleh investasi langsung asing, kebijakan pajak yang menguntungkan, dan pengembangan infrastruktur seperti stasiun pengisian daya."
PwC memperkirakan bahwa proporsi pasar kendaraan listrik (EV) dari total penjualan mobil penumpang di Indonesia akan terus meningkat, dari hanya 9% pada tahun 2023 menjadi 29% pada tahun 2030. Hal ini menciptakan sebuah paradoks bagi konsumen. Di satu sisi, membeli mobil berbahan bakar bensin kini terasa semakin sulit. Di sisi lain, mobil listrik ditawarkan dengan berbagai kemudahan dan insentif.
Namun, pertanyaan penting tetap ada. Apakah infrastruktur pengisian daya sudah benar-benar siap? Bagaimana dengan nilai jual kembali mobil listrik di masa depan? Dan yang paling krusial, apakah pertumbuhan luar biasa ini akan terus berlanjut jika suatu saat nanti insentif dari pemerintah mulai dicabut? Pada akhirnya, masa depan otomotif Indonesia kini berada di persimpangan. Apakah ledakan mobil listrik ini akan menjadi lokomotif yang dapat menarik seluruh gerbong industri menuju pemulihan? Atau ia hanya akan menjadi sebuah perayaan meriah di satu gerbong, sementara gerbong-gerbong lainnya tertinggal dalam kegelapan?
Baca Juga: Wuling Darion Bukti Komitmen Investasi Dan Inovasi Teknologi Hijau Di Indonesia
Tag:
Penulis: Maya Kirana