Cyrillus Harinowo: Proses Dekarbonisasi Tidak Terbatas Pada Penggunaan Mobil Listrik

Senin, 11 November 2024

    Bagikan:
(Medcom.id/Ekawan Raharja)

Bankir dan pakar moneter, Cyrillus Harinowo, mengemukakan bahwa transisi menuju dekarbonisasi sektor transportasi di Indonesia tidak perlu sepenuhnya bergantung pada kendaraan listrik. Menurutnya, alternatif kendaraan dengan emisi rendah lainnya, seperti mobil hybrid dan mobil berteknologi fleksibel (flexy), juga memiliki potensi signifikan dalam mengurangi emisi karbon.

"Saya awalnya tidak menyadari dan sangat dogmatis, beranggapan bahwa mobil listrik adalah satu-satunya pilihan ramah lingkungan. Namun, saya kemudian menyadari bahwa mobil low cost green car (LCGC) dapat menjadi lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan mobil listrik yang ada. Hal yang sama berlaku untuk mobil hybrid dan mobil flexy," ungkap Cyrillus yang dikutip dari Antara.

Kekhawatiran tersebut dituangkan Cyrillus dalam buku terbarunya yang berjudul Multi-pathway for Car Electrification, yang terdiri dari hampir 300 halaman. Buku ini membahas tren terbaru dalam teknologi otomotif, termasuk kendaraan listrik murni (Battery Electric Vehicle/BEV) serta berbagai metode untuk mengurangi emisi karbon. Melalui buku ini, Cyrillus berharap pembaca dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai keberlanjutan ekonomi dan industri dalam mencapai target emisi nol bersih (Net Zero Emissions) di Indonesia. Inspirasi untuk menggali lebih dalam mengenai upaya dekarbonisasi ini muncul setelah pernyataan Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, pada tahun 2020, yang menyatakan bahwa Inggris akan melarang penjualan mobil berbahan bakar konvensional pada tahun 2030.

Satu pernyataan dari Boris Johnson membuat saya merenungkan bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang tidak dapat diubah kembali atau bersifat irreversible. Sementara itu, masyarakat Indonesia belum sepenuhnya memahami isu ini,” kata Cyrillus.

Dia juga menekankan bahwa meskipun mobil listrik tidak menghasilkan emisi saat digunakan, mereka masih bergantung pada sumber energi dari pembangkit yang sebagian besar menggunakan bahan bakar fosil.

“Sebagai contoh, ketika kita membahas penggunaan Battery Electric Vehicle (BEV) saat ini, mobil listrik tersebut mungkin tidak menghasilkan emisi. Namun, saat pengisian daya baterai, 80 persen dari sumber listriknya berasal dari pembangkit yang menggunakan bahan bakar fosil. Ini berarti mobil listrik tersebut sebenarnya masih menghasilkan emisi karbon,” jelasnya.

Cyrillus menambahkan bahwa Brasil dapat dijadikan contoh bagi Indonesia, terutama dalam upaya memanfaatkan bioetanol sebagai bahan bakar alternatif yang dihasilkan dari industri gula. Penggunaan bioetanol di Brasil telah terbukti efektif dalam mengurangi emisi karbon di sektor transportasi, ditambah dengan pengembangan biodiesel dan kendaraan hybrid fleksibel yang menggunakan bioetanol.

Cyrillus menyatakan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan teknologi serta rantai pasok untuk kendaraan listrik dan mesin fleksibel. Di samping itu, cadangan nikel yang ada di Indonesia dapat dimanfaatkan untuk memproduksi baterai listrik yang akan mendukung sektor ini.

Data penjualan mobil di Amerika Serikat pada tahun 2023 juga menunjukkan adanya minat yang tinggi dari konsumen terhadap kendaraan hybrid. "Dengan meningkatnya popularitas mobil hybrid, peluang untuk menghadirkan inovasi baru semakin luas," kata Cyrillus.


Baca Juga: Wuling Darion Bukti Komitmen Investasi Dan Inovasi Teknologi Hijau Di Indonesia


Tag:


    Bagikan:

Penulis: Maya Kirana


Berikan komentar
Komentar menjadi tanggung-jawab Anda sesuai UU ITE.